Kamu mengenalkan namamu begitu saja, uluran tanganmu dan
suara lembutmu berlalu tanpa pernah kuingat-ingat. Awalnya, semua berjalan
sederhana. Kita bercanda, kita tertawa, dan kita membicarakan hal-hal manis. Perhatian
yang mengalir darimu dan pembicaraan manis kala itu hanya kuanggap sebagai hal
yang tak perlu dimaknai dengan luar biasa. Ku jaga baik-baik hati ini agar tak
terbawa larut kedalam perasaan.
Di bawah langit kota Jogja, masih tersisa bayang-bayangmu
dikamarku. Suara motor lalu lalang, ketikan jemariku di layar handphone, dan
setiap inci ketika aku melempar pandang; entah mengapa wajahmu selalu hadir
disana. Aku tau ini bukan lagi perasaan yang biasa, perasaan ini pun aku tak
jelas ujungnya, perasaan yang membuatku bingung dan linglung.
Sore itu, kejadian yang cukup membuatku terpukul dan sedikit terluka. Aku tidak tau harus menyesal, marah, berteriak, meninggalkanmu, atau
secara egois tetap melanjutkan perasaan ini. Kamu Cuma sang pemain hati yang
menghalalkan segala cara untuk menghapus kesepianmu dan kehausan dirimu akan
perhatian.
Kalau kamu mau aku mengatakan semua dengan sangat jujur. Aku
akan bercerita betapa sejak kita berkenalan, aku terlena pada percakapan kita
diujung malam. Pada tawamu yang menyegarkanku, pada selera humormu yang cukup
tinggi, pada kata-kata jailmu, pada usahamu untuk menahanku pergi.
Seharusnya, sebelum aku terbawa terlalu jauh, lebih dulu
harus kutau bagaimana dirimu yang sesungguhnya. Aku tak tau perasaan ini
bernama apa, yang jelas setelah tau kamu seorang pemetik bunga-bunga ditaman,
aku hanya merasakan mataku panas dan ada yang basah di pipiku.
Sekarang, apa yang harus aku sesali? Aku yang baru kau
kenali dalam hitungan hari ini hanya bisa berdoa bahwa Tuhan sesegera mungkin
melepaskan perasaan ini. Aku tak ingin menjadi bunga yang hanya kau tumpuk,
yang lama kelamaan akan layu dan terbuang.
Setelah kau hancurkan semua, setelah kau habisi semua. Kau masih
ingin berharap aku tetap bersikap normal ketika luka di hatiku semakin
berdarah?
Ah, ini bukan salahmu. Ini salahku, gadis yang terlalu cepat percaya, yang terlalu mudah terbawa suasana, gadis yang hatinya baru saja
kacau, gadis berumur dua puluh tahun yang merasa kamu bisa menjadi sandaran
hatinya.
Ini salahku, pasti salahku, selalu salahku, karena tak paham
bahwa perkenalan ini ternyata bisa menjerumuskan aku pada perasaan yang
harusnya tidak aku rasakan.
Mengapa Tuhan hadirkan perasaan ini begitu cepat? Lalu begitu
cepat pula Ia menunjukkan semuanya.
No comments:
Post a Comment