Thursday, April 14, 2016

Semua Salahku

Kamu mengenalkan namamu begitu saja, uluran tanganmu dan suara lembutmu berlalu tanpa pernah kuingat-ingat. Awalnya, semua berjalan sederhana. Kita bercanda, kita tertawa, dan kita membicarakan hal-hal manis. Perhatian yang mengalir darimu dan pembicaraan manis kala itu hanya kuanggap sebagai hal yang tak perlu dimaknai dengan luar biasa. Ku jaga baik-baik hati ini agar tak terbawa larut kedalam perasaan.

Di bawah langit kota Jogja, masih tersisa bayang-bayangmu dikamarku. Suara motor lalu lalang, ketikan jemariku di layar handphone, dan setiap inci ketika aku melempar pandang; entah mengapa wajahmu selalu hadir disana. Aku tau ini bukan lagi perasaan yang biasa, perasaan ini pun aku tak jelas ujungnya, perasaan yang membuatku bingung dan linglung.

Sore itu, kejadian yang cukup membuatku terpukul dan sedikit terluka. Aku tidak tau harus menyesal, marah, berteriak, meninggalkanmu, atau secara egois tetap melanjutkan perasaan ini. Kamu Cuma sang pemain hati yang menghalalkan segala cara untuk menghapus kesepianmu dan kehausan dirimu akan perhatian.

Kalau kamu mau aku mengatakan semua dengan sangat jujur. Aku akan bercerita betapa sejak kita berkenalan, aku terlena pada percakapan kita diujung malam. Pada tawamu yang menyegarkanku, pada selera humormu yang cukup tinggi, pada kata-kata jailmu, pada usahamu untuk menahanku pergi.

Seharusnya, sebelum aku terbawa terlalu jauh, lebih dulu harus kutau bagaimana dirimu yang sesungguhnya. Aku tak tau perasaan ini bernama apa, yang jelas setelah tau kamu seorang pemetik bunga-bunga ditaman, aku hanya merasakan mataku panas dan ada yang basah di pipiku.

Sekarang, apa yang harus aku sesali? Aku yang baru kau kenali dalam hitungan hari ini hanya bisa berdoa bahwa Tuhan sesegera mungkin melepaskan perasaan ini. Aku tak ingin menjadi bunga yang hanya kau tumpuk, yang lama kelamaan akan layu dan terbuang.

Setelah kau hancurkan semua, setelah kau habisi semua. Kau masih ingin berharap aku tetap bersikap normal ketika luka di hatiku semakin berdarah?
Ah, ini bukan salahmu. Ini salahku, gadis yang terlalu cepat percaya, yang terlalu mudah terbawa suasana, gadis yang hatinya baru saja kacau, gadis berumur dua puluh tahun yang merasa kamu bisa menjadi sandaran hatinya.

Ini salahku, pasti salahku, selalu salahku, karena tak paham bahwa perkenalan ini ternyata bisa menjerumuskan aku pada perasaan yang harusnya tidak aku rasakan.


Mengapa Tuhan hadirkan perasaan ini begitu cepat? Lalu begitu cepat pula Ia menunjukkan semuanya.



No comments:

Post a Comment