Kamu mengenalkan namamu begitu saja, uluran tanganmu dan
suara lembutmu berlalu tanpa pernah kuingat-ingat. Awalnya, semua berjalan
sederhana. Kita bercanda, kita tertawa, dan kita membicarakan hal-hal manis. Perhatian
yang mengalir darimu dan pembicaraan manis kala itu hanya kuanggap sebagai hal
yang tak perlu dimaknai dengan luar biasa. Ku jaga baik-baik hati ini agar tak
terbawa larut kedalam perasaan.
Di bawah langit kota Jogja, masih tersisa bayang-bayangmu
dikamarku. Suara motor lalu lalang, ketikan jemariku di layar handphone, dan
setiap inci ketika aku melempar pandang; entah mengapa wajahmu selalu hadir
disana. Aku tau ini bukan lagi perasaan yang biasa, perasaan ini pun aku tak
jelas ujungnya, perasaan yang membuatku bingung dan linglung.