Wednesday, June 5, 2013

Mengapa harus bertemu jika akhirnya di pisahkan?

Satu tahun lebih sebulan. Segitulah perkenalan kita, tidak cukup lama memang. Tapi ternyata semua telah melekat, termasuk soal perasaan. Satu minggu setelah perpisahan itu. Semua begitu berbeda. Hari-hariku yang tiba-tiba kosong dan berbeda ternyata cukup membawa rasa tertekan. Entah mengapa meskipun aku belum benar-benar mengenalmu terlalu jauh, tapi sudah muncul saja rasa rindu yang sulit kuatasi. Asal kamu tau saja, setiap hari aku mengaharpkan kamu hadir di tengah-tengah sekolah lagi layaknya murid biasa. Namun apa? Semua tak ada hasil. Aku hanya bisa menemukanmu di jejaring sosial sebagai penawar rindu ini. Tapi semua tak cukup. Aku sudah berusaha tak memikirkan kamu dan semua kenangan dulu, tapi semakin kulawan semakin kuat juga bayanganmu yang hadir dan melekat di pikiranku.


Seharusnya, sejak dulu saja tak perlu kuperhatikan kamu sedetail itu. Sejak pertama bicara, harusnya tak perlu kucari kontakmu dan kuhubungi kamu dengan begitu lugu. Aku terlalu penasaran, terlalu mengikuti rasa keingintahuanku. Jika dari awal aku tak mengenalmu, mungkin aku tak akan tau rasanya meluruhkan air mata di pipi.

Perpisahan seharusnya tak terlalu menghasilkan sakit karena perkenalan kita belum begitu lama. Aku sempat melirik ke belakang, melihat dan mengingat apa saja yang pernah terjadi. Kita berbicara dalam percakapan singkat di jejaring sosial. Kamu menghangatkanku di tengah dinginnya malam dengan candaan kecilmu. Aku boleh tersenyum karena detak jantungku tak beraturan ketika kamu memberi ucapan semangat meskipun hanya dalam bentuk tulisan. Kamu juga pernah tersenyum kecil ketika kita tak sengaja berpapasan. Bagaimana mungkin aku bisa begitu mudah melupakan hal-hal spesial itu? Spesial, hmm.. mungkin tidak untukmu, tapi ya untukku. Bukankah ketika jatuh cinta, setiap orang selalu menganggap segala hal yang biasa terasa begitu spesial dan manis?

Namun, sekarang hal spesial itu hanya bisa dikenang. Kini kamu telah hijrah ke ujung kota sana. Tempat yang mungkin telah kau impikan sejak lama. Aku tak bisa berbuat apa-apa, entah harus bahagia atau malah bersedih. Bersedih karena tiba-tiba harus kehilangan atau bahagia karena selangkah lagi kamu akan menggapai cita-citamu. Aku tak bisa banyak berbuat. Hanya berdoa lah yang dapat aku lakukan. Berharap 5 tahun kedepan kita akan dipertemukan kembali dengan membawa kabar bahagia. “aku lulus! Aku sukses!”. Yaap! Kata-kata itulah yang aku harapkan terucap jika kita bertemu lagi.

No comments:

Post a Comment