Satu tahun lebih sebulan. Segitulah perkenalan kita, tidak
cukup lama memang. Tapi ternyata semua telah melekat, termasuk soal perasaan.
Satu minggu setelah perpisahan itu. Semua begitu berbeda. Hari-hariku yang
tiba-tiba kosong dan berbeda ternyata cukup membawa rasa tertekan. Entah mengapa
meskipun aku belum benar-benar mengenalmu terlalu jauh, tapi sudah muncul saja
rasa rindu yang sulit kuatasi. Asal kamu tau saja, setiap hari aku mengaharpkan
kamu hadir di tengah-tengah sekolah lagi layaknya murid biasa. Namun apa? Semua
tak ada hasil. Aku hanya bisa menemukanmu di jejaring sosial sebagai penawar
rindu ini. Tapi semua tak cukup. Aku sudah berusaha tak memikirkan kamu dan
semua kenangan dulu, tapi semakin kulawan semakin kuat juga bayanganmu yang
hadir dan melekat di pikiranku.
Seharusnya, sejak dulu saja tak perlu kuperhatikan kamu
sedetail itu. Sejak pertama bicara, harusnya tak perlu kucari kontakmu dan
kuhubungi kamu dengan begitu lugu. Aku terlalu penasaran, terlalu mengikuti
rasa keingintahuanku. Jika dari awal aku tak mengenalmu, mungkin aku tak akan
tau rasanya meluruhkan air mata di pipi.
Perpisahan seharusnya tak terlalu menghasilkan sakit karena
perkenalan kita belum begitu lama. Aku sempat melirik ke belakang, melihat dan
mengingat apa saja yang pernah terjadi. Kita berbicara dalam percakapan singkat
di jejaring sosial. Kamu menghangatkanku di tengah dinginnya malam dengan
candaan kecilmu. Aku boleh tersenyum karena detak jantungku tak beraturan
ketika kamu memberi ucapan semangat meskipun hanya dalam bentuk tulisan. Kamu juga
pernah tersenyum kecil ketika kita tak sengaja berpapasan. Bagaimana mungkin
aku bisa begitu mudah melupakan hal-hal spesial itu? Spesial, hmm.. mungkin tidak untukmu, tapi ya untukku. Bukankah ketika jatuh cinta, setiap orang
selalu menganggap segala hal yang biasa terasa begitu spesial dan manis?
Namun, sekarang hal spesial itu hanya bisa dikenang. Kini
kamu telah hijrah ke ujung kota sana. Tempat yang mungkin
telah kau impikan sejak lama. Aku tak bisa berbuat apa-apa, entah harus bahagia
atau malah bersedih. Bersedih karena tiba-tiba harus kehilangan atau bahagia
karena selangkah lagi kamu akan menggapai cita-citamu. Aku tak bisa banyak
berbuat. Hanya berdoa lah yang dapat aku lakukan. Berharap 5 tahun kedepan kita
akan dipertemukan kembali dengan membawa kabar bahagia. “aku lulus! Aku
sukses!”. Yaap! Kata-kata itulah yang aku harapkan terucap jika kita bertemu
lagi.
No comments:
Post a Comment