Saturday, August 3, 2013

Antara Cinta dan Benci

Cinta dan benci itu bedanya tipis banget. Bahkan kadang seseorang susah untuk membedakan antara cinta dan benci. Tapi yang pasti cinta dan benci itu adalah rasa yang amat sangat terdalam dari lubuk hati. Nah karena sama-sama berasal dari tempat yang sangat dalam (di lubuk hati) kedua rasa ini bisa tertukar atau malah tercampur aduk. Makanya kita sering denger istilah “Benci tapi rindu” atau “I miss u but I hate u”


Cinta dan benci  merupakan bentuk fitrah emosional yang dianugerahkan Allah SWT kepada setiap manusia. Ia muncul silih berganti, terkadang cinta datang lebih dahulu baru muncul benci, atau sebaliknya datang benci lebih dahulu tetapi tiba-tiba tumbuh di dalam dirinya rasa cinta. Proses ini sangat alami sehingga jarang orang yang mencintai seseorang berakhir dengan rasa kecintaannya tetapi bisa beralih kepada kebencian. Awalnya dicintai dan mencintai, tetapi akhirnya berakhir dengan rasa kebencian. Sebabnya, banyak hal boleh jadi kecemburuan maupun persoalan lainnya.

Cinta dan benci memang sesuatu yang abstrak, tetapi bagi seorang muslim cinta dan benci tidak hanya dilandasi kepada nafsu semata, cinta dan benci itu harus berdasarkan syariat. Karena bisa jadi, apa yang kita cintai hari ini, justru sesuatu yang buruk. Sebaliknya apa yang kita benci hari ini sebetulnya baik untuk kita. 


Oleh karena itu, orang bijak pernah berkata:
"jangan kamu mencintai seseorang hingga 100 persen, tapi coba tinggalkan sedikit rasa cinta itu, karena boleh jadi ia akan menjelma menjadi orang yang kamu benci. Namun jangan pula kamu membenci seseorang sampai 100 persen karena suatu hari kelak mungkin ia yang akan engkau cintai".

Lalu, adakah rasa cinta bersanding dengan benci?

Ah sepertinya tidak ada yaa?

Mario Teguh pun punya definisi bahwa benci itu sendiri bisa diartikan sebagai “benar-benar cinta”. Karena biasanya orang yang benci kepada seseorang itu rentan suatu saat akan berbalik dan mencintainya? Benarkah?

Banyak orang yang akhirnya “cinta sepenuh hati” walaupun dulunya “benci setengah mati” dan ga sedikit juga yang ngalamin "cinta sepenuh hati" dan berubah jadi "benci setengah mati".

Sadis sih kedengerannya kalau yang terjadi itu malah “Cinta sepenuh hati” jadi “benci setengah mati”. Ini biasanya terjadi pada seseorang yang dulunya saling cinta, saling sayang, siang terkenang malam terbayang, hidup senang walau makan tak kenyang tapi karena satu dari lain hal malah jadi benci sebenci-bencinya, tinggalah kesal bercampur sesal, bertatap wajah seperti tak kenal, mendengar namanya seakan mual ckckck TERRRLAALU! Tapi kok bisa? ya bisa bisa aja, orang yang jatuh cinta itukan biasanya kenal dekat, tau sikap dan watak orang yang di cintainya. Nah terkadang karena sudah terlalu dekat bisa-bisa aja bosen. atau karena something yang lain gitu, eh atau malah gak cocok sama yang diharapkan akhirnya terjadi deh “Pertempuran Hati” itu.  

Jadi intinya, jangan terlalu membenci seseorang, karena boleh jadi nanti suatu saat kamu akan mencintainya atau sebaliknya jangan terlalu mencinta.. karena kalau yang dicinta tak sesuai asa bisa bisa benci selamanya. Terus gimana dong? jawabannya sederhana (aplikasinya susah juga) yaitu “Sewajarnya”. Ini memang gak gampang, soalnya kita terkadang tidak tau batas kewajaran tersebut. Karena itu kita masih perlu orang lain untuk menilai kita dan sikap kita.

No comments:

Post a Comment