Pagi tadi mengingatkanku akan senyummu
Senyum yang telah lama hiang dari pandang
Tiga minggu lalu, ialah yang terakhir
Aku mencari pada jalan yang menyimpan bekas sepatumu
Angin menyisakan wangi tubuhmu
yang seolah berbisik soal rindu
dan memaksaku menyelami kenangan kala itu
Lagi... Lagi... dan lagi...
Aku terseret, terbawa arus dan hilang entah kemana
Kicauan burung seolah mengerti
namun semua tak lagi berarti
Tak pernah kusangka rindu akan sedingin ini
persis seperti pagi tanpa mentari
Bagaimana rasanya duduk menanti perjumpaan,
sementara ia tak pernah menganggap kau sebagai seseorang yang ingin dikunjungi
Bagaimana rasanya memendam rindu sendirian,
sementara kau tak pernah sekalipun terlintas di dalam ingatannya
Bagaimana rasanya membebat luka hati sendirian,
sementara sakitmu bukan sesuatu yang penting untuk ia pikirkan
Bagaimana rasanya menyingkirkan cemburu yang teralu,
sementara perasaan yang kau punya bukan menjadi hal yang harus ia jaga
Bagaimana rasanya merawat sepi,
sementara kau tak menjadi seseorang yang membuat ia antusias untuk menemani
Bagaimana rasanya memperjuangkan cinta sendirian,
sementara kau tak menjadi kebahagiaan yang ingin ia pertahankan
Baiklah... kau tak perlu menjawabnya buru-buru
Bagaimana rasanya, jika pertanyaan tadi kita ubah.
Kau adalah aku, dan ia adalah kau.
No comments:
Post a Comment