Hallo Tuan!
yang sedang sibuk mengejar cita.
Tak terasa hampir dua tahun sudah aku mengagumimu. Bedasarkan
beberapa postingan yang kubaca, katanya jika perasaan itu sudah lebih dari tiga
bulan maka rasa itu bisa disebut dengan cinta. Namun aku pikir aku masih
terlalu takut untuk menyebut ini cinta.
Tuan, sesungguhnya yang mendatangkan rasa kagum ini, yang
memekarkan hati ini adalah dari-Nya. Sungguh aku hanya bisa menerimanya. Aku
hanya bisa pasrah tertegun, tak bisa mengelak atas perasaan ini padamu. Tertegun
dalam keindahan akhlakmu. Tertegun dalam manisnya lisanmu. Dan tertegun pula dalam
kerasnya semangatmu. Semua begitu sempurna, sungguh sempurna. Sempurna sesuai
firman-Nya.
Mungkin aku mengagumimu, sama halnya dengan mereka yang juga
mengagumimu. Tapi maaf, aku tak seberani mereka yang menaruh perhatian berlebih
padamu. Aku hanya berani seperti ini; mengagumimu dalam diam. Tuan, taukah kau soal
itu? Ah tapi aku tak peduli, kau tau ataupun tidak itu tak akan membuat rasaku
berubah.
Tuan, sadarkah kau? Setiap kita bertemu,
aku selalu memperhatikanmu sedetail yang aku bisa. Aku gugup ketika tak sengaja
mata kita bertemu, nafasku selalu memburu ketika senyum itu terlukis sempurna, aku selalu harus berpura-pura. Berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. Bahwa tak ada
apa-apa di dalam sini; hatiku. Ini sungguh sulit.
Tuan, karena aku mengagumi maka izinkan aku tak mengusik
khusyuknya ibadahmu. Izinkan aku tak mengusik ketenangan hatimu. Tak mengapa
aku tak bertegur sapa denganmu. Cukuplah bagiku menyapamu dalam doa-doaku.
Aku mencintaimu dalam diam lebih mulia bagi perasaanku dan
perasanmu. Lebih menjaga kehormatanmu dan lebih menjaga kemuliaanmu. Maka
izinkan aku, izinkan aku mencintaimu dalam keikhlasan. Karena aku tak pernah
tau apakah engkau yang tercatat dalam lauful mahfudz untukku?
Aku tidak ingin mengenalmu lebih jauh karena Allah tidak
ingin semuanya terjadi sebelum ikatan halal dan ijab qobul darimu. Aku mencintaimu
dalam diam karena aku tak pernah tau adakah balasan darimu untukku. Biarlah
kuasa Allah yang menggerakan hatimu untukku. Biarlah aku dekap rapat perasaanku
ini. Biarlah aku tutup rapat hingga Allah mengizinkan pertemuan kita.
Tuan, mungkin aku terlalu bermimpi untuk mendapatkan orang
hebat sepertimu karena wanita hebat pula yang mungkin akan mendampingimu.
Tuan, aku memang tidak secantik mereka, tidak seanggun
mereka. Aku memang tak sesabar Siti Zulaikha yang menanti Yusuf, mungkin pula
aku harus bisa sesabar Fatimah yang menyimpan perasaanya untuk Ali. Tapi aku
tak bisa seberani Siti khodijah karena aku lebih memilih mencintaimu dalam
diam. Diam bukan berarti tak mampu namun aku hanya menjaga perasaanku,
perasaanmu dan perasaannya yang mungkin saja mereka terluka jika ku katakan.
Tuan, jika memang engkau bukan tercatat untukku. Jika memang
engkau hanya hiasan duniaku yang sementara. Jika kau hanya halauan ku semata,
sungguh aku yakin Allah akan menghapus cinta dalam diamku padamu. Allah akan
menghilangkan perasaanku untukmu. Dia akan memberikan rasa yang lebih indah dan
pada orang yang paling tepat. Begitulah kuasa-Nya. Begitulah Dzat yang
membolak-balikan hati hamba-Nya.
Ketika aku tak lagi terkagum denganmu, maka pahamilah
jejakku. Karena mungkin, aku pernah menulis tentangmu dan menyapa namamu dalam
tiap untaian doaku. Dan jika kelak kita memang berjodoh. Aku percaya, diam dan
keikhlasan ku akan Allah hadiahkan keindahan.
Tuan, semoga kita dipertemukan dalam ikatan tali suci ikatan
Mitsaqon ghalizha. :')
No comments:
Post a Comment